PEDULI PADA ORANG MISKIN
Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang ada di dunia. Di dalam negara berkembang, tingkat pembangunannya bisa saja bervariasi. Bahkan, beberapa negara berkembang pun kini mulai berubah sedikit demi sedikit agar standar gaya hidup mereka menjadi layak dan cukup tinggi. Ciri-ciri negara yang termasuk dalam kategori negara berkembang yaitu memiliki pendapatan per-kapita yang rendah, perekonomian yang masih mengandalkan sektor primer, laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, tingkat pendidikan dan kesehatan yang masih rendah, akumulasi modal yang masih terhitung rendah, dan budaya masyarakat yang belum maju. Salah satu akibat yang bisa kita lihat dari ciri-ciri negara tersebut adalah masih maraknya kemiskinan yang dirasakan masyarakatnya.
Kemiskinan sudah menjadi hal yang
sering kita lihat di sekeliling kita. Banyak saudara-saudara kita yang tidak
bisa merasakan apa yang kita miliki. Fenomena kelaparan, busung
lapar, dan kurang gizi merupakan pemandangan biasa yang dengan mudah dijumpai
dalam masyarakat. Kelaparan merupakan salah satu variabel pemiskinan yang merupakan
deviasi dan kealpaan
pejabat
negara. Mereka lupa bahwa program menyejahterakan rakyat merupakan amanah
Undang-undang Dasar 1945.
Kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh kebijakan yang tidak
memihak pada rakyat kecil, berkait dengan diskriminasi pengupahan terhadap
buruh dan kebijakan penentuan harga yang tidak berpihak pada rakyat. Selain
faktor diskriminasi dan kebijakan yang tidak memihak rakyat, faktor lain yang
menyebabkan pemiskinan di Indonesia antara lain struktur penguasaan orang kaya
terhadap orang miskin.
Kemiskinan
juga disebabkan kebijakan-kebijakan yang ditempuh negara tidak berpihak pada
rakyat. Kebijakan yang berkait dengan pertanian, industri dan ketenagakerjaan,
yang merupakan pilar rakyat untuk memperoleh pendapatan kurang menjadi
prioritas. Akibatnya, jutaan orang menganggur dan tidak dapat memenuhi kebutuhan
makan karena tidak memiliki daya beli kebutuhan pokok. Diperkirakan 3% orang
kaya yang pada umumnya berkuasa, serta 17% kelas menengah yang relatif kaya
menguasai, 40% orang yang hidup pas-pasan dan 40% menguaai orang yang melarat mutlak
yang tidak bisa hidup secara layak. Tidak kurang 1,2 milyar, mungkin sekarang
angkanya lebih tinggi lagi, hidup dalam kemiskinan mutlak. Artinya, mereka
tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok yang primer seperti pangan,
sandang, papan, dan kesehatan (air besih dan sanitasi), kerja yang wajar dan
pendidikan yang wajar tidak terpenuhi, apalagi kebutuhan sekunder seperti
misalnya partisipasi, rekreasi atau lingkungan hidup yang menyenangkan. Jadi,
orang miskin hidup dalam kemelaratan yang cukup jelas.
Pesoalan
utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masih banyaknya orang miskin.
Kemiskinan yang mutlak memiliki variabel ikutan seperti buruknya kesehatan dan
pada akhirnya menyebabkan lemahnya kecerdasan. Dengan bahasa yang sederhana
dapat dikatakan bahwa orang miskin yang tidak dapat memenuhi makan dengan baik
akan menyebabkan kesehatannya buruk, dan ketika kesehatannya buruk ia tidak
dapat berpikir dengan prima yang menyebabkan kebodohan.
Kesadaran
gereja untuk mendahulukan kaum miskin yang tidak berdaya, berarti juga
memperjungkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan dan merupakan wujud
kesetiaan pada Yesus Kristus. Kaum miskin yang tidak memiliki akses mudah
memenuhi kebutuhan pokok, memperoleh fasilitas kesehatan dan pendidikan. Yang
terjadi di Indonsia saat ini tidak berbeda dengan yang ditemukan dalam Alkitab.
Menurut
Alkitab kemiskinan dapat disebabkan oleh kemalasan (Ams 6:9-11; 24:30-34;
19:15), kemabukan, kebodohan,dan kerakusan (Ams 23:20-21; 21:17; 13:18; 28:19);
atau malapetaka (Kej 10:4-5). Namun sebab yang paling utama disebut dalam
Alkitab ialah keserakahan, pemerasan, dan penindasan yang dikutuk oleh Allah
dan Nabi-Nabi Israil. Orang-orang miskin dalam kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian
Baru memperlihatkan bahwa:
·
Kaum miskin bukan ditentukan oleh sifat religius
mereka tetapi lebih disebabkan kemiskinan fisik.
·
Kaum miskin dalam Alkitab juga merupakan
kaum dialektis yang
disebabkan oleh kelompok-kelompok yang bertindak tidak adil dan menyingkirkan
mereka.
·
Kaum miskin dalam Kitab Suci adalah
kelompok dinamis.
Dari
penjelasan di atas, dapat dibuat kategori-kategori lebih terperinci mengenai
kaum miskin dalam Injil:
·
mereka yang secara sosial dikucilkan (karena
penyakit lepra dan penyakit jiwa),
·
mereka yang secara sosial bergantung pada pada orang lain (janda
dan yatim piatu),
·
mereka
yang secara religius dibuang (pelacur dan pemungut cukai),
·
mereka
yang secara kulural ditundukkan (kaum perempuan dan anak)
·
mereka yang secara fisik cacat (bisu,
tuli, buntung kaki, buta)
·
mereka
yang secara psikologis tersiksa (kerasukan setan, ayan)
·
mereka
yang secara spiritual rendah hati (orang-orang sederhana
yang takut akan Allah dan para pendosa yang bertobat).
Kaum miskin yang rendah itu tidak semuanya
tanpa dosa. Allah memihak kaum miskin bukan karena mereka lebih suci, melainkan
kerana miskin dan menderita.
Refleksi
pembangunan Kerajaan Allah dengan menanggulangi kemelaratan, khususnya mereka
yang miskin mutlak, muncul pertanyaan siapa saja orang miskin yang mendapat
prioritas untuk didahulukan:
1. Menurut
Kitab Perrjanjian Lama, Allah memperhatikan, melindungi, dan membela orang
miskin yang malang. Terdapat kelompok anawim, kaum miskin yang hanya mengandalkan Allah saja. Sikap pasrah,
sikap mengandalkan dan mempercayakan hidupnya kepada Allah saja, tidak terlepas
dari kemiskinan dan penderitaan nyata yang mereka alami. Mereka adalah yang
miskin secara material dan fisik.
2. Menurut
Injil, kaum miskin yang dihadapi Yesus adalah orang-orang miskin secara fisik,
ekonomi, sosial, politik dan religius. Orang miskin yang dimaksud bangsa yang
dijajah dan ditindas oleh penjajah Roma, mereka yang sakit dan kaum marjinal
yang tidak diikutsertakan dan tidak mempunyai suara dalam kehidupan politik. Yesus
datang membawa alternatif kehidupan baru, agar segala jenis kemiskinan diatasi.