Jumat, 10 Juni 2016



PEDULI PADA ORANG MISKIN

Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang ada di dunia. Di dalam negara berkembang, tingkat pembangunannya bisa saja bervariasi. Bahkan, beberapa negara berkembang pun kini mulai berubah sedikit demi sedikit agar standar gaya hidup mereka menjadi layak dan cukup tinggi. Ciri-ciri negara yang termasuk dalam kategori negara berkembang yaitu memiliki pendapatan per-kapita yang rendah, perekonomian yang masih mengandalkan sektor primer, laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, tingkat pendidikan dan kesehatan yang masih rendah, akumulasi modal yang masih terhitung rendah, dan budaya masyarakat yang belum maju. Salah satu akibat yang bisa kita lihat dari ciri-ciri negara tersebut adalah masih maraknya kemiskinan yang dirasakan masyarakatnya.

Kemiskinan sudah menjadi hal yang sering kita lihat di sekeliling kita. Banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa merasakan apa yang kita miliki. Fenomena kelaparan, busung lapar, dan kurang gizi merupakan pemandangan biasa yang dengan mudah dijumpai dalam masyarakat. Kelaparan merupakan salah satu variabel pemiskinan yang merupakan deviasi dan kealpaan
pejabat negara. Mereka lupa bahwa program menyejahterakan rakyat merupakan amanah Undang-undang Dasar 1945. Kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh kebijakan yang tidak memihak pada rakyat kecil, berkait dengan diskriminasi pengupahan terhadap buruh dan kebijakan penentuan harga yang tidak berpihak pada rakyat. Selain faktor diskriminasi dan kebijakan yang tidak memihak rakyat, faktor lain yang menyebabkan pemiskinan di Indonesia antara lain struktur penguasaan orang kaya terhadap orang miskin.
Kemiskinan juga disebabkan kebijakan-kebijakan yang ditempuh negara tidak berpihak pada rakyat. Kebijakan yang berkait dengan pertanian, industri dan ketenagakerjaan, yang merupakan pilar rakyat untuk memperoleh pendapatan kurang menjadi prioritas. Akibatnya, jutaan orang menganggur dan tidak dapat memenuhi kebutuhan makan karena tidak memiliki daya beli kebutuhan pokok. Diperkirakan 3% orang kaya yang pada umumnya berkuasa, serta 17% kelas menengah yang relatif kaya menguasai, 40% orang yang hidup pas-pasan dan 40% menguaai orang yang melarat mutlak yang tidak bisa hidup secara layak. Tidak kurang 1,2 milyar, mungkin sekarang angkanya lebih tinggi lagi, hidup dalam kemiskinan mutlak. Artinya, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok yang primer seperti pangan, sandang, papan, dan kesehatan (air besih dan sanitasi), kerja yang wajar dan pendidikan yang wajar tidak terpenuhi, apalagi kebutuhan sekunder seperti misalnya partisipasi, rekreasi atau lingkungan hidup yang menyenangkan. Jadi, orang miskin hidup dalam kemelaratan yang cukup jelas.
Pesoalan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masih banyaknya orang miskin. Kemiskinan yang mutlak memiliki variabel ikutan seperti buruknya kesehatan dan pada akhirnya menyebabkan lemahnya kecerdasan. Dengan bahasa yang sederhana dapat dikatakan bahwa orang miskin yang tidak dapat memenuhi makan dengan baik akan menyebabkan kesehatannya buruk, dan ketika kesehatannya buruk ia tidak dapat berpikir dengan prima yang menyebabkan kebodohan.
Kesadaran gereja untuk mendahulukan kaum miskin yang tidak berdaya, berarti juga memperjungkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan dan merupakan wujud kesetiaan pada Yesus Kristus. Kaum miskin yang tidak memiliki akses mudah memenuhi kebutuhan pokok, memperoleh fasilitas kesehatan dan pendidikan. Yang terjadi di Indonsia saat ini tidak berbeda dengan yang ditemukan dalam Alkitab.
Menurut Alkitab kemiskinan dapat disebabkan oleh kemalasan (Ams 6:9-11; 24:30-34; 19:15), kemabukan, kebodohan,dan kerakusan (Ams 23:20-21; 21:17; 13:18; 28:19); atau malapetaka (Kej 10:4-5). Namun sebab yang paling utama disebut dalam Alkitab ialah keserakahan, pemerasan, dan penindasan yang dikutuk oleh Allah dan Nabi-Nabi Israil. Orang-orang miskin dalam kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa:
·         Kaum miskin bukan ditentukan oleh sifat religius mereka tetapi lebih disebabkan kemiskinan fisik.
·         Kaum miskin dalam Alkitab juga merupakan kaum dialektis yang disebabkan oleh kelompok-kelompok yang bertindak tidak adil dan menyingkirkan mereka.
·         Kaum miskin dalam Kitab Suci adalah kelompok dinamis.
Dari penjelasan di atas, dapat dibuat kategori-kategori lebih terperinci mengenai kaum miskin dalam Injil:
·         mereka yang secara sosial dikucilkan (karena penyakit lepra dan penyakit jiwa),
·         mereka yang secara sosial bergantung pada pada orang lain (janda dan yatim piatu),
·         mereka yang secara religius dibuang (pelacur dan pemungut cukai),
·         mereka yang secara kulural ditundukkan (kaum perempuan dan anak)
·         mereka yang secara fisik cacat (bisu, tuli, buntung kaki, buta)
·         mereka yang secara psikologis tersiksa (kerasukan setan, ayan)
·         mereka yang secara spiritual rendah hati (orang-orang sederhana yang takut akan Allah dan para pendosa yang bertobat).
 Kaum miskin yang rendah itu tidak semuanya tanpa dosa. Allah memihak kaum miskin bukan karena mereka lebih suci, melainkan kerana miskin dan menderita.
Refleksi pembangunan Kerajaan Allah dengan menanggulangi kemelaratan, khususnya mereka yang miskin mutlak, muncul pertanyaan siapa saja orang miskin yang mendapat prioritas untuk didahulukan:
1.      Menurut Kitab Perrjanjian Lama, Allah memperhatikan, melindungi, dan membela orang miskin yang malang. Terdapat kelompok anawim, kaum miskin yang hanya mengandalkan Allah saja. Sikap pasrah, sikap mengandalkan dan mempercayakan hidupnya kepada Allah saja, tidak terlepas dari kemiskinan dan penderitaan nyata yang mereka alami. Mereka adalah yang miskin secara material dan fisik.
2.      Menurut Injil, kaum miskin yang dihadapi Yesus adalah orang-orang miskin secara fisik, ekonomi, sosial, politik dan religius. Orang miskin yang dimaksud bangsa yang dijajah dan ditindas oleh penjajah Roma, mereka yang sakit dan kaum marjinal yang tidak diikutsertakan dan tidak mempunyai suara dalam kehidupan politik. Yesus datang membawa alternatif kehidupan baru, agar segala jenis kemiskinan diatasi.

 Markus Angkawijaya

511510010

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar